kisah nabi muhamad S.A.W menjelang sakaratul maut

Diposting oleh Murtado pada 03:22, 25-Mar-12

“Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih- Nya. Maka taati dan bertaqwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua perkara pada kalian, Al Qur’an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku.” Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca- kaca, Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam- dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. “Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” keluh hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Di saat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu. Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?” “Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut,” kata Rasulullah. Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut roh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. “Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu- pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti rohmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. “Engkau tidak senang mendengar khabar ini?” Tanya Jibril lagi. “Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” “Jangan khuatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril. Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan roh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat Penghantar Wahyu itu. “Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, kerana sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat rasa maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.” Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan-akan hendak membisikkan sesuatu. Ali segera mendekatkan telinganya, “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku” – “Peliharalah shalat dan peliharalah orang- orang lemah di antaramu.” Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan, “Ummatii, ummatii, ummatiii” – “Umatku, umatku, umatku…” Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma solli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi… Betapa cintanya Rasulullah kepada kita. Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesedaran untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya, seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita. Kerana sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka.

Wali songo

Diposting oleh Murtado pada 00:38, 25-Mar-12

Masyarakat tradisional Jawa sangat mengenal dan menghormati Walisongo, yaitu Sembilan Wali, ahli agama yang pertama kali memperkenalkan dan menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Pada waktu itu penduduk Jawa masih sedikit, tanah yang dipergunakan untuk berkebun dan bersawah juga masih sedikit, sebagian besar masih berupa hutan. Kondisi alam yang subur dan iklim tropis yang nyaman telah mengantar tumbuhnya kehidupan masyarakat yang tertata dan berbudaya. Sudah lama berkembang bentuk pemerintahan kerajaan lengkap dengan birokrasinya yang menggerakkan jalannya tata praja yang diduduki oleh orang-orang Jawa sendiri. Bentuk pemerintahan kerajaan adalah pengaruh dari budaya Hindu, sebelumnya pemerintahan asli berbentuk Kabuyutan yang dipimpin oleh Ki Buyut ( Orang tua bijak yang jadi panutan). Orang- orang zaman dulu selain telah mengenal pertanian dengan sistim irigasi, juga mengenal pelayaran yang cukup maju pada masanya. Nenek moyang bangsa juga menjadi pelaut yang handal seperti yang dikumandang lagu : “Nenek moyangku orang pelaut”. Pertanian dan pelayaran berkembang karena sejak zaman kuno , pinisepuh negeri ini telah mengenal Ilmu Bintang, jadi sangat memahami musim, cuaca, aliran angin dsb. Sehingga diketahui dengan akurat ,kapan saat tanam dan melaut. Seperti diketahui sebelum kedatangan pengaruh budaya dari luar ( dan yang pertama adalah pengaruh Hindu), penduduk Jawa telah mengenal dan menguasai: Sistim sawah dengan irigasi, Astronomi, Pelayaran, Wayang, Gamelan, Tembang, Batik, Pembuatan seni logam, Sistim mata uang, Sistim pemerintahan. Tenun untuk membuat pakaian juga telah dikenal. Kehidupan kota dan desa telah berjalan, perdagangan , seni, budaya maju, upacara-upacara ritual dilaksanakan secara teratur. Kebatinan, spiritualitas berdasarkan panembah/ penyembahan kepada Gusti, Penguasa Jagat Raya telah dipraktekkan. Orang Jawa yang merdiko – bebas dan bergotong royong dalam menjalani kehidupan bermasyarakat, telah sejak zaman kuno menjalankan kehidupan berdasarkan Paugeraning Urip- aturan-aturan baku kehidupan berlandaskan budi pekerti, tata krama dan tata susila dan hormat kepada orang tua dan para pinisepuh, baik yang masih hidup maupun yang sudah berpulang ke asal mula/ meninggal dunia. Menyimak pemaparan singkat diatas dan adanya peninggalan- peninggalan kuno berupa benda-benda arkeologis,bangunan, prasasti , naskah kuno, tak pelak lagi penduduk Jawa telah sejak masa kuno mempunyai hubungan dengan penduduk dari negeri dan benua lain. Hubungan dengan manca negara dan budaya lain berpengaruh kepada budaya setempat.Hal ini positif karena memperkaya kehidupan dan memperluas wawasan budaya masyarakat. Pesisir Utara Jawa Sesuai data sejarah, sejak abad ke 13, agama Islam telah mulai ada disekitar kota-kota pelabuhan di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa, juga di Majapahit,negara yang berbasiskan pertanian yang kuat dan juga negara maritim yang merajut hubungan dagang internasiona yang luas. Penganut agama Islam selain para pedagang pendatang, juga penduduk pesisir Jawa. Kemudian beberapa priyayi termasuk bangsawan Majapahit memeluk agama Islam, terutama tertarik kepada Tasawuf dan Ilmu Makrifat. Keberadaan dan perkembangan Islam dipesisir utara Jawa selama dua abad berlangsung damai. Orang-orang Islam di Jawa juga mengagumi budaya karaton-karaton Jawa yang indah. Bangunan-bangunan masjid seperti di Demak, Kudus dan nantinya di pedalaman berarsitektur Jawa. Budaya Jawa tetap eksis Dalam sebuah seminar mengenai “ Pengaruh Islam terhadap budaya Jawa dan sebaliknya” yang diadakan oleh Perpustakaan Nasional R.I di Jakarta pada 31 Oktober 2000, para pakar sejarah Indonesia seperti Prof.DR. Simuh, Prof.DR. Djoko Suryo, Prof.DR.H. Ardani, Prof.DR. Sartono Kartodirdjo dll, mempunyai pendapat yang sama bahwasanya sebelum datangnya pengaruh luar, orang Jawa pada zaman kuno telah mempunyai kepercayaan dan budaya sendiri. Dalam perkembangannya , Hindu, Buddha, Islam tidak pernah meninggalkan budaya Jawa dan terjadi saling pengaruh budaya. Kristen, Katholik, Konghucu juga bersikap demikian. (SKM. Buana Minggu, edisi November 2000). Dalam hal ini peranan Walisongo sangat besar. Susunan Walisongo Sesuai dengan namanya Walisongo, jumlah wali penyebar agama Islam di Pulau Jawa dipermulaan abad ke 15 ada 9/Sembilan, yaitu : 1. Sunan Gresik ( Syekh Maulana Malik Ibrahim) 2. Sunan Ampel ( Raden Rahmat) 3. Sunan Giri (Raden Paku) 4. Sunan Bonang ( Raden Makdum Ibrahim) 5. Sunan Drajat (Syekh Syarifudin) 6. Sunan Kudus ( Syekh Ja’far Shadiq) 7. Sunan Muria ( Raden Umar Said) 8. Sunan Gunung Jati (Sayid Syarif Hidayatullah) 9. Sunan Kalijaga ( Raden Mahmud Syahid) Sunan Gresik Syekh Maulana Malik Ibrahim adalah Wali tertua diantara Walisongo. Beliau menyiarkan agama Islam di daerah Jawa Timur, khususnya Gresik, sehingga dikenal sebagai Sunan Gresik. Menurut beberapa sumber yang dapat dipercaya, diantaranya dari Encyclopedie Van Nederland Indie bahwa Syekh Maulana Malik Ibrahim adalah keturunan ke 17 dari Rasulullah SAW ,dari jalur Siti Fatimah, putri Rasulullah SAW yang istri Sayidina Ali bin Abi Thalib. Sunan Ampel Sunan Ampel atau Raden Rahmat adalah putra seorang penyebar agama Islam yang terkenal Ibrahim Asmaraqandi yang menyiarkan agama Islam di Campa/Kamboja, atas perintah ayahnya Syekh Jamaluddin Jumadil Qubra. Ibrahim Asmaraqandi berhasil mengajak raja Campa masuk Islam dan beliau menikah dengan putri Raja Campa yang bernama Candrawulan dan mempunyai putra Sayid Ali Rahmatullah , kemudian dikenal sebagai Sunan Ampel. Salah satu adik dari Candrawulan ( ibunya Sunan Ampel) yaitu Dewi Anarawati atau Dwarawati , dijadikan istri oleh Raja Brawijaya dari Majapahit. Dwarawati menjadi permaisuri, istri resmi tunggal, istri- istri yang lain diceraikan atau diberikan kepada para Adipati untuk dijadikan istri mereka. Menurut cerita , Dewi Dwarawati tidak mau dimadu. Raja Brawijaya pungkasan/ terakhir masuk Islam. Salah satu istri yang dicerai oleh Brawijaya adalah Dewi Kian , seorang putri Cina, yang di- anugerahkan kepada Adipati Palembang yaitu Aryo Damar. Karena waktu itu Dewi Kian tengah hamil tua, dia tidak boleh digauli sebelum anaknya lahir. Kemudian lahir seorang putra yang bernama Raden Patah yang menjadi anak didik Sunan Ampel dan kelak menjadi Raja Demak. Pada saat keruntuhan kerajaan Majapahit. Sunan Giri Sunan Giri atau Raden Paku atau Ainul Yakin adalah putra seorang ulama keturunan Arab yang bermukim di Samudra Pasai, Aceh yang bernama Syekh Maulana Ishak. Silsilah beliau dari Sayyidatina Fatimah binti Rasulullah, istri Ali bin Abi Thalib. Dari pihak ibundanya yang bernama Dewi Sekardadu, Sunan Giri adalah seorang cucu Raja Blambangan yang beragama Hindu yaitu Prabu Minak Sembayu. Prabu Minak Sembayu bertahta di Blambangan menggantikan Wirabumi atau Minak Jinggo, salah satu putra Hayam Wuruk, raja Majapahit. Sunan Giri merupakan saudara sepupu Sunan Ampel, dari kakek mereka Syekh Jamaluddin Jumadil Qubra. Sunan Bonang Sunan Bonang adalah putra keempat Sunan Ampel, dari perkawinan Sunan Ampel dengan Dewi Candrawati binti Brawijaya Kerthabumi. Jadi Sunan Bonang yang punya nama kecil Raden Makdum Ibrahim adalah cucu Brawijaya. Lalu kenapa namanya sebagai Wali dikenal sebagai Sunan Bonang? Karena beliau waktu berdakwah di daerah Tuban menggunakan alat gamelan yaitu Bonang. Penduduk sangat menggemari dakwah yang dibarengi dengan gamelan bonang. Apalagi yang menabuh bonang dengan mahir adalah seorang Waliyullah, penduduk datang berbondong- bondong. Dalam khotbahnya Sunan Bonang melantunkan tembang-tembang yang berisikan pokok-pokok ajaran Islam yang amat disenangi penduduk. Murid Sunan Bonang amat banyak dan tersebar di Tuban, Jepara , Bawean dan Madura. Beliau terkenal sebagai ulama besar yang berilmu tinggi, sifatnya sangat sabar dan santun terhadap sesama manusia meskipun berbeda agama. Sunan Drajat Nama kecil Sunan Drajat adalah Syarifuddin, putra ketiga dari Sunan Ampel, Ibunya seorang putri Tuban yaitu Dewi Candrawati atau Nyi Ageng Manila. Sunan Drajat hidup dimasa keruntuhan Kerajaan Majapahit sekitar tahun Saka 1400 atau Masehi 1478. Beliau termasuk seorang Wali yang berperan aktif membantu berdirinya Kerajaan Demak. Sunan Drajat berwatak luhur. Seperti juga ayahnya beliau percaya bahwa jika orang telah memiliki ilmu (agama) yang banyak, niscaya mendapatkan kemuliaan dunia dan akhirat. Didunia mendapatkan penghormatan dari sesama manusia dan Allah akan mengangkat derajatnya diakhirat. Sunan Kudus Sunan Kudus yang bernama asli Ja’far Sadiq adalah putra Raden Usman Haji dari Jipang Panolan, dekat Blora, Jawa Tengah yang masih keturunan bangsawan. Ilmunya tinggi sehingga disebut oleh penduduk Jipang Panolan sebagai ulama besar dan terkenal juga dengan sebutannya Sunan Ngudung. Sejak muda ,Ja’far Sadiq senang mengembara ke pelbagai pelosok daerah. Mencari ilmu, menambah pengalaman hidup dan mencari rezeki. Ini sesuai dengan ajaran ayahnya yang menganjurkan supaya umat Islam selalu bekerja keras mencari nafkah dan kalau perlu menjelajah ke seluruh pelosok jagad raya untuk mengenal kebesaran Allah SWT. Beliau juga terkenal berjiwa sosial, sering membantu orang kecil, hatinya senang bila melihat orang kecil bersuka hati. Selain belajar agama dari ayahnya, Ja’far Sadiq pernah menimba ilmu kepada seorang ulama dari Tiongkok yang bernama Kyai Telingsing yang bermukim antara sungai Tanggulangin dan sungai Juwana. Kyai Telingsing yang arif, melihat bahwa kelak Ja’far Sadiq akan menjadi orang besar. Sunan Muria Sunan Muria yang nama aslinya Raden Said atau Raden Prawata berdakwah disekitar Gunung Muria, disebelah utara Kota Kudus. Beliau adalah putra Sunan Kalijaga, ibunya adalah Dewi Sujinah yang kakak kandung Sunan Kudus. Sunan Muria mempunyai hubungan yang akrab dengan para wali yang lain. Menurut berbagai sumber, Sunan Muria lahir disekitar pertengahan abad ke 15. Sunan Gunung Jati Sunan Gunung Jati adalah sebutan untuk Fatahillah atau Falatehan menurut sebutan Portugis. Nama aslinya adalah Syarif Hidayatullah. Sejarah mencatat namanya adalah : Syekh Nuruddin Ibrahim Ibnu Maulana Ismail, Syarif Hidayatullah, Said Kamil, Maulana Syekh Makhdum Rahmatullah. Beliau disebut seorang sayyid artinya masih keturunan anak cucu Rasulullah SAW.Diperkirakan lahir di Pasai, Aceh pada akhir abad ke 15 atau permulaan abad ke 16. Ayahandanya adalah Maulana Sultan Mahmud alias Syarif Abdullah yang masih keturunan Bani Ismailiyah. Ibunya ,adalah Ratu Mas Rarasantang, putri dari Raden Pamanarasa, Raja Pajajaran. Pada masa kecilnya belajar kepada ayahnya sendiri. Setelah menginjak dewasa berusaha mendalami ilmu dan agama. Ilmu bisa membuat manusia sejahtera hidupnya, sedangkan agama menuntun agar tetap melangkah dijalan lurus. Ilmu dan agama harus berjalan seimbang. Menyadari hal tersebut sepenuhnya ,Syarif Hidayatullah berangkat untuk belajar di Mekah. Selama dua tahun berguru kepada ulama-ulama terkemuka antara lain Syeikh Tajmuddin Al-Kubra dan Syeikh Athaillah Syadzali. Kemudian melanjutkan mendalami Tasawuf di Baghdad. Syarif Hidayatullah menjadi seorang pemuda yang menguasai berbagai bidang, pandai bicara, ahli pantun, seni sastra sehingga mampu menarik perhatian orang banyak. Dengan menumpang kapal dagang yang biasa mengunjungi negerinya, Syarif Hidayatullah pulang untuk mengajarkan ilmunya. Sunan Kalijaga Sunan Kalijaga , nama kecilnya Raden Syahid adalah putra Bupati Tuban, Tumenggung Wilatikta. Ibunya bernama Dewi Nawangrum. Disebut Sunan Kalijaga karena sering bertirakat dikali untuk membersihkan jiwanya dan dalam keheningan memohon petunjuk Gusti Allah supaya mendapatkan tuntunan yang baik dan benar, baik untuk diri sendiri maupun bagi umat. Kalijaga artinya penjaga kali; kali dalam hal ini berarti aliran, jadi Sunan Kalijaga adalah seorang wali yang menjaga semua aliran atau kepercayaan yang hidup di masyarakat. Beliau memang seorang wali yang kondang dan amat dihormati oleh para raja, bangsawan karaton maupun penduduk Jawa tradisional. Selain wali, Sunan Kalijaga adalah juga seniman dan budayawan yang besar jasanya dalam melestarikan tradisi dan budaya Jawa. Dari perkawinannya dengan Dewi Saroh binti Maulana Ishak , berputra tiga yaitu: 1. Raden Umar Said (Sunan Muria) 2. Dewi Ruqayah 3. Dewi Sofiyah. Perkawinannya dengan Dewi Sarokah putri Sunan Syarif Hidayatullah, Cirebon, berputra lima, yaitu : 1. Kanjeng Ratu Pembayun, yang menjadi istri Sultan Trenggono, raja Demak. 2. Nyai Ageng Panenggak yang menikah dengan Kyai Ageng Pakar. 3. Sunan Hadi yang meneruskan kedudukan ayahnya menjadi Kepala Perdikan Kadilangu. 4. Raden Abdurrahman. 5. Nyai Ageng Ngerang. Sunan Kalijaga adalah wali yang sangat kuat pengaruhnya di Jawa Tengah sampai Mataram, mempunyai murid- murid yang handal yang menjadi kyai- kyai yang terkemuka dan menjadi penasihat spiritual raja-raja Jawa. Dalam menjalankan misinya menyebarkan Islam, budaya Jawa tetap hidup. Orang Jawa mulai menyebut Gusti Allah. Mantra- mantra warisan leluhur tetap dipertahankan. Sejak masa Sunan Kalijaga pengucapan sebuah mantra dimulai dengan ucapan : Bismillahirrohmanirrohim dan ditutup dengan kata-kata : Kersaning Allah – Atas kehendak Allah. Sunan Kalijaga berilmu tinggi, luas sekali pengetahuannya, terkenal amat bijak. Dalam menjalankan misinya menyiarkan Islam tidak pernah menyinggung dan menyakiti pihak lain, beliau sangat luwes dan memegang tata krama dalam pergaulan . Beliau dikenal wali yang sakti, mempunyai ilmu mu’jizad yang mengagumkan, namun begitu tetap rendah hati. Itulah sebabnya Sunan Kalijaga sangat dihormati semua lapisan masyarakat. Selain itu beliau juga pujangga yang handal dengan tembang-tembang ciptaannya yang terkenal sampai hari ini dan sering dikidungkan baik oleh orang kota maupun desa. Diantara murid Sunan Kalijaga yang terkenal antara lain adalah Sunan Tembayat dan Sunan Geseng yang menjadi salah satu pemomong Sultan Agung dari Mataram. Sunan Kalijaga telah lama meramal bahwa Kerajaan Mataram akan menjadi kerajaan besar dan penting di Nusantara. Selain Walisongo yang terkenal, setidaknya ada lagi dua orang Wali yang juga terkenal pada masa itu, tetapi tidak termasuk kelompok Sembilan Wali, yaitu : Syekh Siti Jenar dan Sunan Panggung.

kisah nabi muhamad saw dari lahir hingga wafat

Diposting oleh Murtado pada 04:04, 23-Mar-12

assalamu'alaikum wr wb Satu-satunya rasul Allah yang diutus untuk semua ras dan golongan adalah nabi Muhammad saw. Karena itu ajarannya sangat universal; tidak hanya tentang ibadah dan keakhiratan, namun juga urusan-urusan diniawi yang mencakup semua sisi kehidupan manusia, mulai dari masalah makan hingga urusan kenegaraan. Namun demikian, masih banyak orang yang buta terhadap pribadi dan kehidupan beliau. Akibatnya, mereka terhalang untuk melihat dan merasakan kebenaran yang dibawanya. Pada lembaran ini penulis mencoba memperkenalkan Nabi Muhammad saw secara singkat dari beberapa sisi, dengan harapan dapat bermanfaat dan membantu kita semua. 1. Nama dan Gelar Nabi Muhammad Saw Antara lain seperti disebutkan di dalam HR Bukhari dan Muslim: Ahmad, Mahi, Hasyir, ‘Aqib, Muqaffi, Nabiyyuttaubah, Nabiyyurrahmah. 2. Nasab Nabi Muhammad Saw Di dalam buku Shahih Bukhari bab Mab’ats an-Nabiyyi saw, Imam Bukhari merincikan silsilah nasab Nabi Muhammad saw sebagai berikut: Muhammad saw bin Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qusyai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luai bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’add bin Adnan. Imam Bukhari menambahkan di dalam Kitab Tarikh al-Kabir: Adnan bin Udud bin Al-Maqum bin Nahur bin Tarh bin Ya’rab bin Nabit bin Ismail bin Ibrahim… Menurut para pakar – sebagaimana yang disebutkan oleh sejarawan Syekh Abdurrahman bin Yahya Al-Yamany – antara Adnan dan Ismail ada sekitar 40 kakek. 3. Kelahirannya Nabi Muhammad saw lahir di Makkah pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun Gajah dalam keadaan yatim. Penamaan tahun Gajah berkaitan dengan peristiwa pasukan Gajah yang dipimpin oleh Abrahah, Gubernur Yaman yang ingin menghancurkan Ka’bah. Namun sebelum sampai ke kota Makkah, mereka diserang oleh pasukan burung yang membawa batu-batu kerikil panas (lihat QS Al-Fil: 1-5). Kelahiran nabi Muhammad saw bertepatan dengan tanggal 20 April 571 Masehi. 4. Masa Menyusui Nabi Muhammad saw pertama kalinya disusui oleh ibunya Aminah dan Tsuwaibatul Aslamiyah. Namun itu hanya beberapa hari. Selanjutnya beliau disusui oleh Halimah As- Sa’diyah di perkampungan bani Sa’ad. Muhammad saw tinggal bersama keluarga Halimah selama kurang lebih empat tahun. Di akhir masa pengasuhan keluarga Halimah ini terjadi pembedahan nabi Muhammad saw. 5. Muhammad Saw di Mata Penduduk Makkah Sejak kecil Muhammad saw jauh dari tradisi- tradisi jahiliyah dan tidak pernah melakukan penyembahan terhadap tuhan berhala. Namun demikian beliau tetaplah seorang yang santun dan jujur, karenanya beliau terkenal dengan gelar Al- Amien (orang yang terpercaya). 6. Pernikahan Nabi Muhammad Saw Pada usia yang ke-25 tahun, Muhammad saw menikah dengan Khadijah binti Khuwailid, seorang janda kaya berusia 40 tahun. Pernikahan ini diawali dengan lamaran Khadijah kepada Muhammad saw setelah melihat dan mendengar kelebihan-kelebihan dan akhlaknya. 7. Isteri-isteri Rasulullah Muhammad saw Selain Khadijah, isteri-isteri beliau adalah: Saudah binti Zam’ah, Aisyah binti Abu Bakar, Hafshah binti Umar, Zainab binti Khuzaimah, Ummu Salamah (Hindun binti Umayyah), Zainab binti Zahsy, Juwairiyah binti Al- Harits, Ummu Habibah (Ramlah), Shafiyah binti Huyay, Maimunah binti Al- Harits dan Maria Al- Qibtiyah. Nabi Muhammad menikahi mereka semua setelah Khadijah meninggal dunia. Dan mereka semua beliau nikahi dalam keadaan janda, kecuali Aisyah ra. Jika dilihat dari faktor tiap pernikahan beliau, semuanya mempunyai hubungan yang kuat dengan dakwah dan ajaran Islam yang dibawanya. 8. Anak dan Putrinya Anak dan putri nabi Muhammad saw adalah: Qasim, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Fathimah, Abdullah dan Ibrahim. Mereka semua lahir dari rahim Khadijah kecuali Ibrahim dari Maria Al-Qibtiah. Anak-anak beliau yang laki-laki semuanya meninggal sebelum usia dewasa. 9. Muhammad Saw Menjadi Rasul Allah Turunnya wahyu pertama QS. Al-A’la: 1-5 di gua Hira pada hari Senin di bulan Ramadan pada usia yang ke 40 menjadi awal kerasulan Muhammad saw. Wahyu pertama tersebut berisi: "1) Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan, 2) Yang menciptakan manusia dari segumpal darah, 3) Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, 4) Yang mengajari (manusia) dengan pena, 5) Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya." Setelah menerima wahyu tersebut, Muhammad saw pulang menemui Khadijah dan mengungkapkan kekhawatirannya terhadap dirinya. Khadijah menenangkan: "Bergembiralah! Demi Allah, Dia tidak akan pernah menyia- nyiakanmu. Demi Allah, engkau ini menghubungkan shilaturrahim (hubungan kerabat), berkata jujur, menanggung beban orang lemah, membantu orang yang tidak punya, memuliakan tamu, menolong orang- orang yang ditimpa bencana." Khadijah lalu mempertemukannya dengan anak pamannya Waraqah bin Naufal, seorang pendeta Nasrani. Setelah menjelaskan peristiwa yang baru dialaminya di gua Hira, Waraqah menjelaskan bahwa yang datang kepada Muhammad saw itu adalah malaikat yang pernah datang kepada nabi Musa. "…Andai kata aku masih hidup dan kuat di saat engkau diusir oleh kaummu…" kata Waraqah. "Apakah mereka akan mengusirku?" Tanya Muhammad saw. ‘Ya…," jawabnya. (lihat HR Bukhari dan Muslim). 10. Nabi Muhammad Saw Hijrah ke Madinah Nabi Saw hijrah ke Madinah pada tahun ke 13 kenabian yang bertepatan dengan tahun 622 M. Di dalam riwayat Ibnu Ishak dijelaskan bahwa beliau keluar dari rumahnya yang saat itu sedang dikepung oleh pasukan bersenjata kaum musyrik Makkah yang ingin membunuhnya. Lalu Allah Swt menidurkan mereka. Sambil membaca QS. Yasin: 1-9 beliau manaruh pasir di kepala mereka semua, kemudian pergi ke rumah Abu Bakar untuk hijrah bersama ke kota Madinah. Nabi Muhammad saw tiba di Madinah pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awwal tahun 1 Hijriyah. 11. Peperangan Nabi Muhammad Saw Yang mendasari peperangan nabi Muhammad saw. adalah ayat-ayat berikut: - "Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi karena sesungguhnya mereka dizhalimi." (Al-Hajj: 39). - "Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas, sungguh Allah tidak menyukai orang- orang yang melampaui batas" (QS. Al- Baqarah: 190). Dalam hal ini ada aturan-aturan perang, antara lain: Jangan membunuh anak-anak, orang tua, orang yang menyerah, pendeta dan petugas rumah ibadah yang tidak menyerang, hewan tanpa tujuan maslahat, jangan membunuh dengan cara yang sadis dan berlebihan (Tafsir Ibnu Katsir). Dari sini jelas bahwa peperangan nabi Muhammad saw adalah sebagai upaya pembelaan terhadap hak, bukan wasilah untuk islamisasi apalagi balas dendam. Adapun jumlah peperangan yang diikutinya ada sebanyak 27 kali. 12. Akhlak Nabi Muhammad Saw Allah SWT menggambarkan akhlak nabi Muhammad secara umum di dalam QS. Al-Qalam ayat 4: "Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur" Sekedar contoh, penulis paparkan dua sisi dari akhlak beliau: a. Kesabaran Nabi Muhammad Saw Tidak sedikit beban yang ditanggung oleh nabi Muhammad saw dalam menyebarkan dakwah ajaran yang dibawanya. Ejekan, makian, perlakuan kasar dan ancaman pembunuhan diterimanya dari orang-orang musyrik Makkah. Namun itu semuanya tak membuat kesabarannya luntur. Dalam riwayat Imam Bukhari dan Muslim diceritakan bahwa Uqbah bin Abu Mu’ith pernah mencampakkan kotoran onta kepada Rasulullah Muhammad saw sementara beliau dalam keadaan sujud. Beliau terus sujud hingga putrinya Fathimah datang membuangnya. Perlakuan kasar kaum Quraisy semakin bertambah setelah pamannya Abu Thalib dan isterinya Khadijah meninggal dunia pada tahun 10 kerasulan. Karenanya beliau hijrah ke wilayah Thaif. Namun ternyata disini juga beliau tidak diterima, malah penduduk setempat menyuruh anak-anaknya untuk melemparinya dengan batu. b. Kasih Sayang Nabi Muhammad Saw Kasarnya tindakan pengusiran penduduk Thaif terhadap nabi Muhammad saw tidak membuat beliau serta merta mendoakan mereka dengan azab. Tapi justru sebaliknya: "Bahkan saya berharap agar Allah menjadikan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah dan tidak berbuat syirik kepada-Nya sedikit pun," kata beliau saat malaikat penjaga gunung menawarkan kepadanya untuk menimpakan gunung Abu Qubaisy dan gunung yang di sebelahnya kepada penduduk Thaif. (Shahih Bukhari). Dan bagaimana pun juga kasarnya perlakuan dan azab dari kaum musyrik penduduk Makkah kepadanya dan ummat pengikutnya, tapi itu tak membuatnya dendam kepada mereka di saat pembebasan Makkah pada tahun 8 H. Malah beliau saw memberikan amnesty besar- besaran kepada penduduk Makkah. 13. Keistimewaan yang Allah Berikan Kepadanya a. Lima kelebihan yang tidak diberikan kepada orang sebelumnya Dari Jabir bin Abdullah ra, nabi Muhammad saw bersabda: "Saya diberikan lima hal yang tidak diberikan kepada seorang pun sebelum saya; 1) saya diberi kemenangan dengan rasa takut (yang ditimpakan kepada musuh-musuhku) dalam jarak satu bulan perjalanan, 2) bumi dijadikan tempat shalat dan suci untukku, maka siapa pun di antara ummatku yang mendapatkan waktu shalat hendaklah dia melakukannya, 3) dihalalkan untukku harta ghanimah dan itu tidak dihalalkan kepada orang sebelum saya, 4) saya diberi syafa’at, 5) dahulu nabi diutus hanya kepada kaumnya, tetapi saya diutus kepada seluruh manusia." (HR. Bukhari dan Muslim) b. Keistimewaannya di hari kiamat Dari Anas ra., nabi Muhammad saw bersabda: "Saya adalah orang pertama yang diberikan syafaat pada hari kiamat nanti, nabi yang paling banyak pengikutnya di hari kiamat, dan orang pertama yang mengetuk pintu surga" (HR. Muslim). Keistimewaan lainnya disebutkan di dalam riwayat Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda: "Saya adalah pemimpin anak-anak Adam pada hari kiamat nanti, saya orang pertama yang dibangkitkan dari kubur, dan saya orang pertama yang diberi syafaat (oleh Allah) dan orang pertama yang memberi syafaat (kepada ummat manusia)." (HR. Muslim). 14. Ibadah Beliau Aisyah ra. Berkata: Rasulullah saw pernah shalat hingga dua kakinya membengkak. Lalu beliau ditegur, beliau menjawab: "Apakah aku tidak pantas menjadi hamba yang bersyukur?" 15. Nabi Muhammad Saw Wafat Beliau saw wafat pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriyah di waktu Dhuha dengan usia 63 tahun. Sebelum ruhnya dicabut, beliau membaca: " ُﻪَّﻠﻟﺍ َﻢَﻌْﻧَﺃ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ َﻊَﻣ َﻦﻴِّﻴِﺒَّﻨﻟﺍ َﻦِﻣ ْﻢِﻬْﻴَﻠَﻋ ِﺀﺍَﺪَﻬُّﺸﻟﺍَﻭ َﻦﻴِﻘﻳِّﺪِّﺼﻟﺍَﻭ ﺮـِﻔﻏﺍ ّﻢـُﻬﻠﻟﺍ ,َﻦﻴِﺤِﻟﺎَّﺼﻟﺍَﻭ ﻰﻨﻘﺤﻟﺃﻭ ﻰﻨﻤﺣﺭﺍﻭ ﻰﻟ ﻢﻬﻠﻟﺍ ,ﻰﻠﻋﻷﺍ ﻖﻴﻓﺮﻟﺎﺑ ﻰﻠﻋﻷﺍ ﻖﻴﻓﺮﻟﺍ ." * Ditulis oleh: Ihsan AM. Hs * Referensi: - A’rif Nabiyyaka Saw, Qism Ilmiy, Dar Al-Wathan, Riyadh - Al-Mu’in ar-Raiq min Sirah Khairi al- Khalaiq, Prof. Dr. Sa’id M. Shaleh Shawabi, Risywan Kairo, 2008. - Mushaf Al-Qur’an Terjemah, Pena, Jakarta, 2002 - Sirah Nabawiyah, Ibnu Katsir, Maktabah Syamilah - Subul al-Huda wa ar-Rasyad, Maktabah Syamilah - Tafsir Ibnu Katsir - Raudhatul Anwar, Shafiurrahman Al- Mubarkafury, Pustaka Raja Fahd, Riyadh 1427 H - Uyun al-Atsar, Maktabah Syamilah